Language:

News

Developing a Green Regency in the Heart of Borneo

CSF Sintang Green Regency stakeholder dialogue
Stakeholders from various background got together during the dialogue. Photo credit: Sopian Hidayat.

The government of Sintang Regency in West Kalimantan has committed to adopt sustainable, low-carbon development principles to achieve a balanced economy with long-term conservation of ecosystem services and cultural values. To further this goal, the local government has collaborated with CSF-Indonesia to formulate a roadmap. As a strategic partner, CSF decided to take a careful approach in their support to the government, knowing that a lasting impact is only possible through hard work and dedication of the government and community themselves. Much of CSF’s work is behind the scenes, allowing the government and its people the freedom to make their own choices with the information. Our first step was to gather interested parties within the Regency to have share their vision for a future Sustainable Sintang through a stakeholder dialogue.

Around 80 people from academia, government agencies, civil society organizations (CSOs), and local communities gathered on May 8 – 9, 2018 to engage in this process. During the opening speech, Jarot Winarno, Regent of Sintang, reiterated his willingness to support this process until the very end and called on the participants to provide as many insights as possible to support the identification of a shared vision.

CSF Sintang Green Regency stakeholder dialogue
Mubariq Ahmad, CSF-Indonesia Director, leading a discussion with the local government in Sintang. Photo credit: Sopian Hidayat.

The first day of dialogue revolved around the intention of the government to implement green development, as well as discussion with participants on how they envision their future according to their own perspectives. Many stakeholders were eager to make their voices heard and, as a result, a deep discussion about sustainable development occurred. Several local organizations voiced concerns about diminishing local wisdom in the Regency and asked the government to revitalize local wisdom by integrating it into the green development plan in order to strengthen their identity as a community. One such example is a traditional form of weaving that relies on an environmentally friendly dye which originates from the cheese fruit tree (Morinda citrifolia). As oil palm plantations expand at a tremendous rate in this area, the tree’s habitat is increasingly threatened and this traditional art form is at risk.

The second day of the event focused on preparation of the much needed background studies by CSF in collaboration with local universities in Sintang. CSF has identified several experts to conduct studies on four main issues: (1) economic development, (2) history, society and culture, (3) biophysical resources and environment, and (4) land based economy, land governance and agrarian reform. The stakeholder dialogue was the perfect platform for them to identify relevant issues as a basis for the background studies.

Many insights were successfully gained during our two days together. These will serve as critical inputs as the government works to find the right balance between equity, ecological harmony, and a thriving economy for the Sintang Regency. As for our next step, CSF is planning to have a training on sustainable development and integrated landscape policy for relevant local stakeholders in Sintang on July 30 - August 2, 2018. Stay tuned!

For more information about the project in the scope of which this workshop was organized, please click here.

This work was made possible with generous funding from The David and Lucile Packard Foundation.

 


 

Membangun Kabupaten Lestari di Jantung Kalimantan

Pemerintah Kabupaten Sintang di Provinsi Kalimantan Barat baru-baru ini telah menyatakan komitmennya dalam mengadopsi pembangunan yang berkelanjutan dengan prinsip pembangunan dengan emisi rendah untuk mencapai keseimbangan ekonomi yang disertai dengan konservasi lingkungan serta nilai-nilai kultur lokal. Untuk merealisasikan target tersebut, pemerintah Kabupaten Sintang bekerjasama dengan CSF-Indonesia untuk membuat suatu peta jalan (roadmap). Sebagai mitra strategis pemerintah Kabupaten, CSF berkomitmen untuk bekerja dari belakang layar dengan memberikan kebebasan penuh bagi para pemerintah serta masyarakat Kabupaten Sintang untuk saling bekerjasama dalam setiap prosesnya. CSF berpegang teguh pada prinsip bahwa perubahan yang nyata dan berkelanjutan hanya bisa dicapai melalui campur tangan para pemangku kepentingan itu sendiri dan bukan dari pihak luar. CSF, dalam hal ini, memiliki peran sebagai fasilitator yang berkewajiban untuk memastikan proses-proses yang terjadi berjalan dengan baik. Oleh sebab itu, langkah pertama dari CSF adalah mengumpulkan para pemangku kepentingan di Kabupaten Sintang untuk berdiskusi dan berbagi pandangan tentang persepsi masing-masing pihak mengenai arti dari Sintang Lestari melalui sebuah proses dialog (Stakeholder dialogue).

Pada tanggal 8 - 9 Mei 2018, sekitar 80 peserta dari berbagai latar belakang seperti akademik, pemerintahan, LSM, dan komunitas lokal di Kabupaten Sintang berkumpul dalam acara dialog ini. Melalui kata sambutan, Bupati Sintang Jarot Winarno kembali menegaskan dukungannya sebagai wakil pemerintah dalam seluruh proses ini dari awal hingga akhir. Jarot juga mengajak para peserta untuk memberikan informasi yang sebanyak-banyaknya demi keberhasilan dalam mengidentifikasi visi bersama Kabupaten Sintang.

Hari pertama Dialog diwarnai dengan diskusi antara pihak pemerintah dengan para pemangku kepentingan lokal tentang bagaimana persepsi masing-masing pihak terhadap Kabupaten Sintang yang Lestari serta harapan untuk ke depannya. Banyak para peserta yang menyuarakan pendapatnya, dimana pada akhirnya berujung kepada diskusi yang mendalam mengenai pembangunan bekelanjutan. Beberapa organisasi lokal, pada khususnya, mengungkapkan keprihatinan mereka mengenai kearifan lokal yang kian terkikis oleh peradaban modern. Mereka meminta kepada pemerintah agar dapat diberikan perhatian khusus dalam hal konservasi kearifan lokal dengan cara mengintegrasikan hal tersebut di dalam rencana formal pemerintah. Salah satu contohnya adalah tradisi tenun ikat Sintang yang dimana salah satu bahannya berasal dari sumber alami yaitu pohon mengkudu. Seiring dengan pembangunan kelapa sawit yang terus berkembang, hal ini merupakah suatu ancaman tersendiri bagi keberadaan pohon mengkudu di alam yang pada akhirnya berimbas kepada tradisi tenun ikat di Kabupaten Sintang.

Hari kedua dari rangkaian dialog ini adalah persiapan dari studi latar belakang yang dilakukan oleh CSF dan universitas lokal di Sintang yaitu Universitas Kapuas. Dalam hal ini, CSF telah mengidentifikasi beberapa ahli di dalam bidang-bidang yang ditargetkan seperti: (1) pembangunan ekonomi, (2) Sejarah, budaya dan masyarakat, (3) Sumber daya fisik dan lingkungan, serta (4) ekonomi berbasis lahan, tata kelola lahan dan reforma agraria. Dialog pemangku kepentingan ini merupakan dasar yang tepat bagi para ahli dalam mengidentifikasi isu-isu yang perlu diangkat di dalam studi mereka.

Pada akhir dialog, banyak sekali informasi-informasi yang terkumpul dari berbagai sumber yang nantinya akan menjadi masukan-masukan yang sangat penting bagi pemerintah dalam merencanakan program pembangunan kabupaten lestari di Sintang. Pemerintah, dalam hal ini, berharap dapat menyeimbangkan unsur-unsur kesetaraan, harmoni dengan lingkungan, dan ekonomi yang dinamis. Langkah CSF berikutnya adalah mengagendakan suatu pelatihan tentang pembangunan berkelanjutan dan kebijakan lahan terpadu bagi para pemangku kepentingan lokal di Sintang yang akan diadakan pada tanggal 30 Juli hingga 2 Agustus 2018.

Untuk informasi lebih lengkap bisa dilihat disini.

Program ini didukung sepenuhnya oleh donasi dari The David and Lucile Packard Foundation.